Agama, Fanatisme, dan Akal Sehat

Banyak orang mengklaim bahwa agamanya adalah yang paling benar. Hal ini sebenarnya tidak masalah bagi saya. Yang menjadi masalah adalah ketika orang-orang tersebut menilai agama lain dengan kacamata yang sempit, dengan standar dan ukuran agamanya sendiri—lalu menghakimi agama lain sebagai sesuatu yang salah. Kondisi seperti ini membuat saya prihatin. Agama, yang seharusnya menjadi jalan menuju kebenaran dan kebaikan, malah sering digunakan sebagai alat untuk berkompetisi: agama siapa yang dianggap paling benar. Saya mencoba menganalogikan agama sebagai kendaraan, seperti bus yang membawa kita menuju tujuan tertentu—katakanlah Surga. Misalnya, Surga kita anggap berada di Pulau Bali. Kita semua berangkat dari daerah yang berbeda, tetapi tujuan akhirnya tetap sama: Pulau Bali (Surga). Di dalam bus, ada penumpang, yaitu kita sebagai umat beragama, dan ada kru bus, yang saya analogikan sebagai pemuka agama. Tuhan adalah seperti tuan rumah yang menanti kita di Bali (Surga). Tuhan telah membe...